Mengapa e-learning adalah kunci membangun pendidikan yang tahan bencana?

Baru saja tiga bulan berjalan di tahun 2020 ini, tapi dunia sudah menghadapi berbagai tantangan yang sepertinya membutuhkan waktu sepanjang tahun untuk melewatinya: kebakaran hutan besar-besaran di Australia, erupsi gunung berapi dan gempa bumi di Filipina, banjir di Jakarta, badai besar di US dan Eropa Barat, serta tentu saja, pandemik virus corona.

Saya tinggal dan mengajar di Filipina, negara yang terpapar angin topan 20 kali dalam setahun, hujan monsoon yang menyebabkan banjir, serta bencana yang disebabkan manusia, seperti konflik bersenjata di beberapa wilayah. Saya mungkin terpapar bencana lebih banyak dari pada para pendidik lainnya rata-rata, tapi percayalah, ini bukan kompetisi. Setiap aspek dalam kehidupan bisa jadi -dan biasanya memang- merasakah dampak negatif dari bencana alam. Tidak terkecuali pendidikan.

Ketika bencana menyerang Filipina, kelas-kelas terpaksa ditunda di area-area terdampak. Dan kelas yang tertunda berarti siswa harus melalui harinya tanpa belajar. Sekolah harus mengganti hal tersebut dengan mempersiapkan hari belajar ekstra di sekolah setelah semua kembali normal. Lebih seringnya, hari belajar ekstra ini dilakukan di hari Sabtu – waktu di mana siswa lebih ingin menghabiskannya bersama keluarga dan teman-temannya.

Dari pengalaman saya, ada beberapa tantangan yang pengajar dan siswa hadapi ketika kelas ekstra dibutuhkan:

  • Mengatur ulang jadwal kelas – pengajar harus mengatur jadwal yang sesuai untuk seluruh siswa sehingga mereka yang kelasnya ditunda bisa berkumpul bersama untuk kelas pengganti.
  • Mempersiapkan ruang kelas – setelah jadwal yang sesuai telah ada, hal berikutnya yang cukup sulit adalah menemukan ruang kelas kosong yang bisa menampung seluruh siswa dengan jadwal yang telah ditentukan tadi.
  • Memastikan semua siswa hadir – karena ini adalah kelas pengganti, siswa pendidikan tinggi tidak harus hadir, tapi siswa pendidikan dasar wajib hadir.

Kita menyaksikan bagaimana proses pendidikan terganggung dan terpaksa terhenti di banyak negara saat ini. Tidak perlu panik, ada solusi yang lebih baik dibanding mengatur ulang jadwal untuk kelas pengganti.

Membuat Pendidikan Tahan Bencana

Oleh karena itu, sebagai pengajar yang mengalami langsung hal-hal tersebut, saya adalah penasihat untuk Pendidikan yang Tahan Bencana. Pendidikan tahan bencana adalah tindakan proaktif yang menjadikan proses belajar mengajar bisa tetap berjalan meskipun ada bencana alam maupun bencana akibat manusia. Tindakan ini juga untuk menghindari hari-hari ekstra yang dibutuhkan untuk kelas tambahan.

Teknologi pendidikan memungkinkan hal ini terjadi di kelas yang saya ajar pribadi. Ada banyak perangkat digital untuk belajar mengajar yang tersedia kapan saja, di mana saja, bahkan dalam skenario terburuk sekalipun.

Salah satu platform tersebut adalah Learning Management System (LMS). LMS memungkinkan pengajar membuat dan memberikan konten ajar dengan mudah dan tentu saja mudah diakses juga oleh siswa. Hal ini memungkinkan Anda memantau proses belajar siswa serta partisipasinya, menilai pengetahuan dan kemampuan mereka, bahkan di luar kelas.

LMS yang baik berpasangan dengan pedagogi yang baik adalah sebuah formula sempurna untuk pendidikan yang tahan bencana. Meski demikian, kuncinya adalah bisa menemukan perangkat yang tepat dan pedagogi yang tepat di waktu yang tepat.

PIE – Perencanaan, Implementasi, Evaluasi

Saya ingin berbagi sesuatu yang telah saya kembangkan beberapa tahun terakhir berdasarkan pengalaman. Untuk belajar mengajar yang efisien secara online, saya menggunakan proses PIE – Perencanaan, Implementasi, Evaluasi – yang merupakan tiga langkah nyata yang pendidik manapun bisa integrasikan dengan kelas atau sekolah mereka.

Perencanaan

Perencanaan adalah kunci suksesnya pengembangan pendidikan yang tahan bencana. Dalam tahap ini, penting untuk mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Tujuan yang jelas – apa tujuan dan apa yang ingin Anda capai adalah pertanyaan penting yang harus Anda jawab.
  2. Ukur kapabilitas sekolah Anda – penting bagi Anda untuk mengetahui kapabilitas sekolah Anda dalam hal teknologi dan pedagogi untuk bisa mengimplementasikan proses belajar mengajar jarak jauh.
  3. Identifikasi rintangan dan batasan – pertimbangkan juga teknologi dan akses internet para siswa di rumah.
  4. Kenali siswa Anda – penting untuk mengenal gaya belajar siswa Anda sehingga pendekatan yang tepat bisa digunakan.
  5. Kesiapan pengajar – kemampuan dasar penggunaan teknologi oleh pengajar serta pedagogi dan konten adalah faktor penting. Harus dipastikan bahwa pengajar siap dan memiliki kelengkapan yang cukup untuk membawakan kelas virtual.

Implementasi

Setelah perencanaan selanjutnya adalah implementasi, berikut ini adalah beberapa faktor penting untuk diperhatikan pada tahap ini:

  1. Ketersediaan konten – pastikan konten Anda siap dan bisa diakses oleh siswa dalam platform digital yang digunakan. Akan lebih baik jika konten Anda sejalan dengan teknologi dan pedagogi. Misalnya, jika Anda menggunakan blended-learning, Anda harus memiliki LMS yang mendukung hal tersebut.
  2. Gunakan perangkat yang tepat – perhatikan perangkat digital yang sudah Anda gunakan dan evaluasi potensinya untuk digunakan dalam pembelajaran jarak jauh, misalnya LMS sekolah Anda. Namun, jika Anda belum memilikinya, saya sarankan Anda menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk memilihnya:
    • Apakah LMSnya mudah diatur dan diimplementasikan?
    • Apakah LMSnya menawarkan uji coba gratis?
    • Apakah LMS menyediakan support dan pendampingan penuh bagi penggunanya?
    • Apa yang Anda butuhkan dan ingin capai?
    • Apakah LMSnya memiliki fitur yang Anda cari atau inginkan?
    • Apa hambatan secara teknologi yang dimiliki antara para pengguna dan sekolah?
  3. Pilih aktivitas belajar yang tepat – pembelajaran akan berlangsung secara jarak jauh, dan Anda ingin memastikan platform dan seluruh fiturnya mendukung aktivitas ini. Beberapa aktivitas virtual yang sangat berfungsi di kelas saya adalah forum, debat, wiki, dan aktivitas kelompok secara online untuk engagement dan partisipasi kelas, ujian online dan web-conferencing, chat grup, eassay online, dan berbagai aktivitas lain yang tersedia.

Evaluasi

Terakhir, evaluasi kesuksesan!

Evaluasi adalah cara paling praktis untuk mengetahui apakah implementasi pendidikan tahan bencana ini berhasil. Tiga kata kunci penting dalam evaluasi adalah: Dampingi, Monitor, Sesuaikan:

  1. Dampingi pengajar, siswa, dan seluruh pihak terkait seperti orang tua murid dalam proses ini serta apa yang harus mereka lakukan.
  2. Ketika proses belajar terjadi di luar kelas, penting bagi Anda untuk melakukan monitor terhadap progress pengajar maupun siswa. Selain itu juga penting untuk mengembangkan sistem feedback and support yang efektif, khususnya jika pembelajaran berlangsung jarak jauh atau di rumah.
  3. Dan terakhir, sesuaikan. Buatlah penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan atau improvisasi implementasi Anda. Upgrade, inovasi, ciptakan hal baru, dan update sesering yang diperlukan.

Pendidikan tahan bencana untuk semua

Di tengah bencana yang sedang kita hadapi saat ini, ketika sebagian besar sekolah ditutup sementara dan kelas-kelas ditunda, proses belajar mengajar bisa tetap berlangsung dengan memanfaatkan beragam perangkat digital untuk pendidikan. Yang lebih penting, kita bisa menciptakan pendidikan yang tahan bencana dengan sedikit kreatifitas dan sentuhan teknologi.


jen padernal Jenielyn Padernal

Jen adalah Global Director of E-learning Integration untuk CYPHER LEARNING dan seorang pendidik dengan lebih dari 20 tahun pengalaman dalam bidang ini. Beliau seorang e-learning specialist, pembicara internasional, pendidik, dan trainer mengajar dengan teknologi.


Close